SEHATI SHINE


25 June 2010

Mangongkal Holi, Upacara Adat Menghormati Leluhur
J. Adat Batak — - -

Berangkat dari Poda Palimahon (Titah yang ke-5) dalam Keluaran 20 : 12 "Angkon pasangaponmu do natorasmu anso martua ho jala lolot mangolu di tano na ni lehen ni Tuhan Debatamu di ho" (Hormatilah ayahmu dan ibumu supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu). Sebagian besar suku Batak masih menjalankan adat istiadat Mangongkal Holi para leluhur dan mempersatukannya dalam satu tempat yang dinamakan tugu atau bale.

Tulisan kali ini akan mengupas upacara adat mangongkal holi di daerah Tapa-nuli Selatan, tepatnya di Simangambat Huta Godang Kecamatan Saipar Dolok Hole. Perjalanan dari Medan sampai ke desa tersebut memakan waktu sekitar 12 jam. Sementara dari kota Sipirok, untuk sampai di desa ini lama perjalanan sekitar 45 menit dengan jarak mencapai 35 kilometer.

Lamanya perjalanan dipengaruhi oleh kondisi jalan yang kurang bagus dan banyaknya kelokan di sepanjang perjalanan. Selain itu, alat transportasi ke daerah ini juga sangat sulit dan memiliki jam-jam tertentu untuk berangkat.

Pagi hari, saat udara berhembus perlahan terasa sangat dingin dan menusuk ke pori-pori. Pukul 7 pagi, bus yang akan melaju menuju ibukota kecamatan Saipar Dolok Hole, Sipagimbar tersebut sudah sarat dengan muatan. Desa Simangambat Huta Godang salah satu desa yang akan dilalui untuk sampai di kota kecamatan tersebut. Bus melaju perlahan menghindari kubangan dan kelokan. Tak terasa, desa yang dituju dan menjadi pusat diadakannya upacara adat mangongkal holi itu pun sudah didapat.

Acara yang digelar di desa tersebut bertajuk "Horja Bolon Mangongkal Holi/Horja Siluluton Dohot Si Riaon Pomparan ni Ompu Nami Baginda Idris Ritonga (Ompu Panangaran) sekaligus mempersatukan tulang-belulang para leluhur tersebut di dalam satu tugu atau bale yang telah disediakan keturunan Ompu Idris Ritonga.

Perlu diketahui, bahwa susunan masyarakat Sumatera Utara adalah berdasarkan geneologis teritorial seperti Batak Toba, Karo, Simalungun, Mandailing dan Nias. Bila ditinjau dari garis keturunan maka suku Batak dan Nias adalah patrilinial.

Pada masyarakat suku Batak, Nias maupun Melayu ada upacara adat siklus kehidupan dari lahir, masa dewasa sampai kematian, seperti upacara turun mandi, pemberian nama, potong rambut, mengasah gigi, perkawinan dan upacara pemakaman jenazah.

Di masyarakat Batak dikenal upacara memberi makan oleh anak kepada orang yang lanjut usia (sulang-sulang). Terdapat juga upacara penggalian/pemindahan tulang belulang kesuatu tempat atau tugu yang disebut (mangongkal holi).

Setiap upacara-upacara adat masyarakat Batak selalu disertai dengan pemberian Ulos dan tarian (Manortor) yang diiringi musik tradisional seperti gondang sabangunan atau uninga-uningan Batak.

Dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pelaksanaan upacara adat, suku Batak juga masih tetap menganut falsafah masyarakat Batak Dalihan Natolu, sebagai hukum adat Batak yang mempunyai arti tumpuan yang tiga yang dimaknai sebagai kebersamaan yang cukup adil dalam kehidupan masyarakat Batak. Dimana, Dalihan Natolu meliputi, Dongan Sabutuha (saudara semarga), Hula-hula (ipar, baik adik atau kakak laki-laki dari istri) dan Boru (keluarga dari pihak laki-laki).

Sama halnya dalam upacara adat Batak Angkola yang digelar di Simangambat Huta Godang tersebut, dimana falsafah Dalihan Natolu menjadi dasar dalam pelaksanaan adat istiadat di sana. Pomparan (keturunan) Ompu Idris Ritonga yang hadir dalam acara tersebut berasal dari Desa Nauwalu (dari 8 penjuru mata angin). Seperti dari Medan, Jakarta, Sipirok, Riau, Tanjung Pinang dan kota lainnya di Indonesia.

Menurut salah seorang panitia acara, Drs. Sinar Ritonga, SE, MS, perencanaan upacara adat mangongkal holi tersebut sudah dimulai sejak Januari 2005 dan perwujudannya terlaksana 6 sampai 8 Juli 2006. Masa tenggang sebelum pelaksanaan acara, pertemuan-pertemuan sering dilakukan untuk membicarakan berapa besarnya biaya, waktu dan tempat pelaksanaan serta perencanaan-perencanaan lainnya.

Satu hari menjelang dilaksanakannya upacara mangongkal holi, keturunan Ompu Idris Ritonga sudah berdatangan. Malam harinya, seluruh keturunan Ompu Idris Ritonga menggelar rapat (Marhata) untuk menentukan acara demi acara yang akan berlangsung sejak pagi, siang dan malam harinya selama upacara adat tersebut berlangsung. Yang menjadi penentu dalam acara tersebut adalah Raja Panu-sunan Bulung Mangaraja Pa-nikkan Ritonga (Wilmart Ri-tonga).


Penggalian "Saring-Saring"

Dalam kesempatan tersebut, pomparan Ompu Idris Ritonga mengadakan penggalian "saring-saring" atau tulang belulang dari 20 orang ompung mereka yang telah lebih dulu menghadap Yang Maha Kuasa. Keduapuluh kuburan yang digali tersebut berada di dua tempat yang berdekatan dan akan dipersatukan dalam satu bale yang telah disediakan. Sebelum penggalian, terlebih dahulu hula-hula menebarkan santan dengan tepung beras yang telah dicampur kelapa, gula dan garam. Artinya agar proses penggalian berlangsung damai dan sejuk. Kemudian roh dari leluhur itu pun tidak mengganggu pomparannya.

Keduapuluh orang ompung mereka yang tulang belulangnya digali dan dipersatukan dalam satu bale adalah : Ompu Baginda Idris Ritonga dengan isterinya Boru Sipahutar (dulunya menganut agama Islam) memiliki 4 orang anak masing-masing Op. Sangap dengan dua istrinya Boru Harahap dan Boru Siregar, Op. Parmuhunan (Yusuf) gelar Baga Laut Ritonga, Op. Martha Ritonga dengan isterinya Boru Harahap dan Jabinanga dengan istrinya Boru Simatupang. Dari keempat anak Op. Baginda Idris ini satu yang menganut agama Kristen, yaitu Op. Martha Ritonga.

Kemudian dari keempat anak Op. Baginda Idris ini, dari Op. Sangap Ritonga ada Jagelang Ritonga (Mumbal), Jasiala Ritonga dan Op. Rifai dengan istrinya Boru Gultom. Perlu diketahui bahwa istri dari Op. Rifai ini adalah istri abangnya sendiri Jagelang Ritonga. Kemudian dari tiga anak Op. Sangap Ritonga ini, istri Jasiala Ritonga masih hidup.

Keturunan Op. Baginda Idris paling banyak hadir dalam acar tersebut adalah dari anaknya Op. Martha yang memiliki keturunan masing-masing Op. Lasma Rotua Ritonga istrinya masih hidup Boru Harahap, Op. Michael Partogi Ritonga istrinya masih hidup Boru Siregar, Op. Partogi Ritonga istrinya juga masih hidup Boru Gultom, Op. Handry Ritonga dengan istrinya Boru Harahap serta Op. Pardamean istrinya juga masih hidup. Dari lima anak Op. Martha Ritonga ini, satu diantaranya kembali menganut agama Islam, selebihnya masih menganut agama Kristen.

Setelah semua tulang belulang berhasil digali, dimasukkan dalam peti dan atasnya ditutup dengan ulos, masing-masing pomparan Ompu Idris Ritonga memanjatkan doa berdasarkan agama dan kepercayaan masing-masing. Setelah itu, saring-saring tersebut dibawa pulang untuk keesokan harinya kembali dikuburkan dalam satu bale yang telah disediakan.

Penguburan saring-saring tersebut juga masih tetap dilaksanakan sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Dimana yang Kristen memanjatkan doa yang doanya disampaikan oleh pendeta, demikian juga yang beragama Islam, doanya disampaikan oleh salah seorang Ustad yang juga masih keturunan Ompu Idris Ritonga.

Sebagai pertanda bahwa keturunan Ompu Idris Ritonga telah mendirikan bale dan mengadakan upacara adat, di ujung atap bale tersebut ada ditancapkan kayu menyerupai bentuk tanduk kerbau dan belalai gajah. Pertanda ini ada di empat sudut atap bale tersebut. Tanda ini juga untuk memberitahu kepada masyarakat bahwa pomparan Ompu Idris Ritonga telah melaksanakan upacara adat besar dengan memotong 3 ekor kerbau dan telah menunjukkannya dihadapan Raja Panusunan Bulung. Sebagai bukti nyata kepada masyarakat banyak serta Raja Panusunan Bulung, di depan rumah tempat diadakannya upacara adat tersebut juga ada umbul-umbul yang menandakan mereka telah mengadakan upacara adat mangongkal holi, pesta Siluluton dan pesta Siriaon.

Selain itu, upacara adat mangongkal holi tersebut juga tidak terlepas dari kehadiran alat-alat musik yang mengumandangkan berbagai jenis lagu dan alunan musik tradisional. Ada gondang sabangunan, onang-onang dan uning-uningan Batak.

Di hari terakhir upacara adat mangongkal holi, siluluton dan siriaon juga masih ada acara-acara lain yang sangat menarik. Antara lain Patuaekkon dan Penabalan Gelar bagi pomparan Ompu Idris Ritonga khususnya kepada anak laki-laki.


Dalam upacara yang berlangsung beberapa hari tersebut terlihat, bahwa pomparan Ompu Idris Ritonga sangat akrab, penuh kasih dan saling menghargai satu sama lain walau pun ditengah-tengah mereka ada perbedaan kepercayaan.


Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://sehati.blogsome.com/2010/06/25/mangongkal-holi-upacara-adat-menghormati-leluhur/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

 

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Donncha O Caoimh

This blog was open times.
View My Stats
Donncha